Selebriti dan Narkoba

Posted: Februari 1, 2013 in Uncategorized
Tag:, , , ,
SUARA MERDEKA
 
 

 

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, selebriti adalah orang-orang yang menjadi ikon dalam kehidupan sehari-hari. Orang lebih mengenal selebriti daripada pejabat pemerintahan, orang tuanya, bahkan Tuhannya. Tidak aneh bila masyarakat meniru segala tingkah laku dan penampilan para selebriti yang sudah menjadi menu tiap hari dengan melihat layar kaca (TV). Orang pun berlomba-lomba untuk menjadi seperti selebriti, bahkan kalau bisa ingin menjadi selebriti.

Akhir-akhir ini, beberapa media massa memberitakan BNN (Badan Narkotika Nasional) yang memperketat peraturan bagi selebriti menanggapi soal maraknya pemakaian narkoba di kalangan selebriti. Siapa pun yang ingin menjadi artis harus menjalani tes bebas narkoba.

Narkoba (Narkotika dan Obat Berbahaya) merupakan nama lain dari Napza (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif). Inilah yang membuat resah kalangan masyarakat saat ini. Hampir tiap hari, media massa memberitakan penangkapan seseorang terkait narkoba, baik sebagai pengguna, pengedar, maupun produsen.

Konon, selebriti/artis yang merupakan pekerja dunia entertainmen/hiburan sangat dekat dengan dunia malam (clubbing). Para artis pun banyak yang terjebak atau sengaja ingin mencoba barang haram (narkoba) tersebut.

Faktor lingkungan adalah salah satu faktor utama seseorang memakai narkoba. Lingkungan selebriti sangat rawan dengan penggunaan narkoba, seperti yang dialami oleh Roy Marten (artis), Rivaldo (artis), Sammy Simorangkir (musisi), Doyok (pelawak), dan masih banyak lagi.

Dalam UU RI No 22 tahun 1997, narkotika didifinisikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman, baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan perubahan kesadaran, hilangnya rasa, menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika sendiri sangat penting bagi dunia farmasi asalkan digunakan sebagaimana perlunya.

Selebriti yang sangat terkenal dengan selebritasnya, baik sebagai artis, musisi, presenter, bintang iklan, maupun pelawak adalah tonggak perkembangan kepribadian seseorang, khususnya penikmat layar kaca. Sebagai tonggak, sudah seharusnya selebriti memberikan contoh/teladan yang baik bagi masyarakat terutama fans-fansnya.

Terkait narkoba, memang semua orang, tidak hanya selebriti saja yang semestinya diberi pengawasan ketat. Para pegawai kantor, bahkan pejabat pemerintah pun wajib diberi sanksi tegas bila kedapatan memakai narkoba jenis apa pun. Namun, mengapa selebriti lebih diperketat? Selebriti adalah ikon masyarakat. Sebagian besar masyarakat Indonesia setiap hari melihat layar kaca (TV) yang tidak jauh dari acara glamour dunia entertainmen, yaitu dunia selebriti. Mereka lebih mengenal selebriti dari pada yang lain, bahkan orang pun lantas menirunya.

Korban penyalahgunaan narkoba di Indonesia akhir-akhir ini pun cenderung meningkat, baik kalangan selebriti, masyarakat kota, maupun masyarakat pedesaan. Termasuk juga tidak hanya golongan mampu, tetapi juga pelajar, mahasiswa, dan juga masyarakat tidak mampu.

Sebenarnya, baik narkotika maupun psikotropika merupakan obat yang dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan, sehingga ketersediaannya pun perlu dijamin. Namun, apabila obat tersebut disalahgunakan dapat mengakibatkan gangguan fisik, mental, sosial, keamanan dan ketertiban masyarakat, bahkan kematian. Untuk itu BNN perlu memperketat penggunaan narkoba oleh siapa pun, terutama selebriti dengan memberikan sanksi yang tegas, baik dengan pembinaan maupun rehabilitasi. Terbukti sampai saat ini penjara bagi para pelaku narkoba tidak bisa menyelesaikan masalah justru menambah masalah.

Petrus Purwanta
Fak Sastra USD Yogyakarta
RT 03/17 Gayamharjo
Prambanan, Sleman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s