CONTOH ESAI

Posted: Desember 31, 2012 in Sastra
Tag:, , , , ,

 

TUNGGU !

(Djenar Maesa Ayu)

 

Djenar Maesa Ayu adalah seorang penulis berbakat yang juga merambah bidang seni peran pada akhirnya. Dilahirkan di Jakarta, 14 Januari 1973, Djenar mewarisi bakat seninya dari kedua orang tuanya, Syuman Djaya, sutradara film dan Tutie Kirana, aktris di era 1970-an. Djenar memiliki dua orang anak yaitu Banyu Bening dan Btari Maharani. Dari segelintir perempuan penulis Indonesia saat ini, nama Djenar Maesa Ayu terasa sangat menonjol dari yang lainnya. Pada mulanya ia menulis cerita pendek (cerpen), lalu beringsut ke novel. Namanya semakin melangit ketika ia melebarkan sayap ke dunia televisi dan layar lebar. Dan, saat ini, ia bahkan telah menjadi sutradara lewat film yang diangkatnya dari karya cerpennya sendiri, “Mereka Bilang, Saya Monyet!”

MEREKA BILANG, SAYA MONYET! adalah karya buku pertama Djenar. Bahkan karya perdana ini cetak ulang hingga delapan kali dan masuk dalam nominasi 10 besar buku terbaik dalam ajang Khatulistiwa Literary Award pada 2003. Selain menulis buku, ibu dari Banyu Bening dan Btari Maharani ini juga aktif menulis cerpen yang kerap dimuat di beberapa media nasional. Seperti Waktu Nayla yang meraih predikat Cerpen Terbaik Kompas 2003, Menyusul Ayah juga mendapatkan penghargaan sebagai Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan. Februari 2005, Djenar mengeluarkan buku keduanya, JANGAN MAIN-MAIN (DENGAN KELAMINMU) juga meraih sukses dan cetak ulang selang dua hari dari tanggal rilisnya.

Djenar lahir dari keluarga seni. Kedua orangtuanya sendiri adalah tokoh perfilman Indonesia. Ayahnya adalah Sjumanjaya seorang sutradara terkemuka dan ibunya, Toeti Kirana aktris era 70-an yang cukup punya nama.  “Dari kecil saya terbiasa melihat kesibukan kedua orang tua yang enggak jauh-jauh dari dunia seni. Baca buku sastra, nonton film dari banyak negara…” kata perempuan kelahiran Jakarta, 20 Januari 1970. Dulunya Djenar merasa tidak terlalu pandai menulis. Lalu ia memulai kiprahnya di dunia kepenulisan dengan menemui sejumlah sastrawan besar Indonesia yang dijadikannya sebagai “guru” menulisnya. Nama seperti Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma, dan Sutaji Coulzum Bachri kerap disebut-sebut dalam ucapan terima kasihdisetiap karyanya terbit.   “Mereka yang memperkenalkan saya pada keberanian dalam menulis. ‘belajar menulis, ya menulislah!’ kata Sutardji. Lalu saya nulis apa saja. Keberanian memang sudah ada dalam diri saya. Selanjutnya mengalir saat proses pembelajaran. Dari sini saja saya sudah tak pantang dengan tabu. Enggak bisa nulis, tapi ngotot belajar nulis…”katanya sambil tertawa lepas.

Cerpen pertamanya Lintah yang dimuat harian Kompas (2002) menjadi debut yang mengesankan. Keberaniannya memaparkan banyak fakta bertema feminisme dianggap sebagai kelanjutan dari kebangkitan perempuan pengarang era 2000-an. Setelah itu belasan cerpennya bermunculan di sejumlah media masa. Rata-rata Djenar menulis tentang perempuan dan dunianya. Berkat cerpen-cerpennya, Djenar kerap menuai pujian sekaligus kritik pedas.  “Yang saya ingin tulis, saya tulis. Kalau ternyata banyak orang yang mengatakan karya saya itu sebagai karya sastra, atau ada yang mengatakan porno itu saya anggap sebagai komplimen. Tugas saya hanya menulis…Saya tak pantang dengan tema yang dianggap orang tabu,” kata ibu dua anak ini spontan.

Djenar adalah feminis tanpa jargon. Sejumlah cerpennya dianggap banyak kritikus sastra sebagai karya yang mengelaborasi tema seksualitas dan dunia perempuan. Tak jarang, setiap karyanya terbit, selalu saya disertai kontroversi. Djenar sendiri tak sungkan memasukan sejumlah tema-tema krusial seksualitas berikut idiom dan frasanya. Hubungan tak lazim dalam dunia seks, dan sejumlah tema pemberontakan perempuan yang selama ini masih jarang dijamah penulis seangakatannya sekalipun. “Kadang kita sering berlebihan memandang seks. Padahal pembaca dewasa membutuhkan diskusi tentang itu, buang dulu istilah tabu…” katanya. Djenar termasuk perempuan penulis yang produktif. Dalam kurun waktu tujuh tahun, empat judul buku sudah tergarap, dan tiga di antaranya itu masuk sebagai shortlist anugerah sastra tahunan Khatulistiwa Literary Award tahun 2002, 2004 dan 2006. Dan setiap buku karyanya selalu termasuk deretan daftar buku bestseller. Selain menulis djenar merambah kedunia acting. Beberapa judul film yang ia bintangi, BONEKA DARI INDIANA (1990), KOPER (2006), CINTA SETAMAN (2008). Dan filmnya yang terbaru, rilis pada 2009 adalah DIKEJAR SETAN.

FILMOGRAFI
BONEKA DARI INDIANA (1990),KOPER (2006),CINTA SETAMAN (2008),DIKEJAR SETAN (2009),MELODI (2010),PURPLE LOVE (2011)

SINOPSIS

Kesepian, kehampaan, cinta yang bertepuk sebelah tangan, pengkhianatan, perselingkuhan, hubungan cinta yang berada di ambang keraguan, dan berbagai perasaan murung yang menimpa anak manusia melatari fragmen cerita. Relasi antartokoh pun menjadi sesuatu yang rapuh dan muram. Tema di atas diperkuat dengan hadirnya kafe sebagai latar spesial yang mendominasi sebagian besar cerpen, seperti banyak karya Djenar Maesa Ayu lainnya. Kafe menjadi arena pertarungan para tokohnya. Di dalamnya, tokoh-tokoh Djenar, manusia-manusia kelas menengah kota yang kesepian itu, berhadapan satu lawan satu dengan dirinya sendiri. Bersama gelas-gelas bir, terkadang secangkir kopi, mereka bertarung dan bernegosiasi dengan kenangan.

Dalam pengantarnya, Djenar mengakui bahwa ia tidak pernah menulis dengan kerangka konsep tertentu yang telah ditentukan sebelumnya. Imajinasi dan spontanitaslah yang membuat proses penulisan terus berjalan. Lewat imajinasi yang dibiarkan lepas, berbagai kemungkinan pun menemukan pintunya. Hal tersebut terlihat kuat pada keempat belas cerita pendek dalam kumpulan ini. Djenar bersama rekan penulisnya seperti memulai dari ”kekosongan” dan perlahan-lahan menyaksikan sendiri hadirnya berbagai kejutan dalam teks yang mereka hasilkan. beberapa karakteristik yang sangat khas dalam cerpen-cerpen Djenar. Salah satunya adalah kehadiran rima. Dalam banyak paragraf ditemukan rima yang tersebar pada tiap akhir kalimat.

Cerpen Tunggu ! merupakan karya dari seorang satrawan angkatan 2000 yang bernama Djenar Maesa Ayu. Dari judul cerpen ini sudah menarik pembaca untuk megetahui isi ceritanya. Cerpen ini pasti akan membuat para pembaca menyangka bahwa ceritanya selalu menonjolkan sisi sensualitas yang biasa di tonjolkan di berbagai karya – karya Djenar yang lain, Dalam cerpen ini djenar meramu berbagai permasalahan batin yang di alami tokoh tersebut. Dari cerpen yang berjudulkan TUNGGU ! ini menggunakan latar cerita di sebuah kafe tidak di tempat – tempat lain. Cerita pendek ini berawal dari tokoh SAYA yang sedang menunggu seseorang di sebuah kafe. Menunggu pujan hati yang sudah berjanji akan dating,tapi hingga pukul tujuh seorang yang ditunggu belum juga datang. Hingga konflik yang ada di batin tokoh SAYA memuncak seorang yang ditunggu belum juga datang.  

UNSUR INTRINSIK

a)    Tema                         : Penantian seorang pada saat menunggu makan malam

b)    Alur                             :

1.    Perkenalan   : cerpen ini hanya menggunakan tokoh SAYA sebagai tokoh utama.

2.    Konflik           : Tokoh SAYA mulai gundah karena sang pujaan hati yang sudah berjanji akan dating teryata hingga pukul tujuh tidak ada kabar berita akan dating

3.    Penyelesaian :  Setelah menungu ber jam-jam hingga keringat keluar bercucuran dengan perasaan yang sudah tak tentu akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan kafe tersebut.

Alur yang terkandung dalam cerita pendek di atas adalah campuran ( maju dan flash back). Alur maju karena didalam cerpen tersebut pengarang mengungkapkan kejadian yang akan terjadi, dan ceritanya saling bersambung antara paragraph yang satu dengan paragraph yang selanjutnya. Alur flash back karena didalam cerita pendek tersebut pengarang menceritakan kejadian masa lalu atau menceritakan masa lampau.

c)    Latar ( setting)           :  Di sebuah kafe sekitar pukul tujuh

d)    Sudut Pandang       : Cerita pendek ini menggunakan sudut pandang orang   pertama pelaku utama

e)    Amanat                      : Kita jadi orang harus bias sabar misalnya demi seorang pujaan hati tokoh SAYA rela menghabiskan waktu untuk menunggu dia datang.  Dia juga sabar menghadapi keadaan hubungan mereka yang sudah tidak ada harapan.

f)     Gaya Bahasa            :  gaya bahasa yabg digunakan oleh pengarang adalah pleonase, perifarsis dan hiperbola

g)    Tokoh/ watak                        : Tokoh SAYA dalam cerpen ini mempunyai watak sabar, tegar berfikiran kritis, dan pantang menyerah

Oleh Himawan A Chandra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s